DIAM?? HANYA ITU YANG BISA KU LAKUKAN UNTUK
DIRINYA...
Cinta, begitu indahkah kau
hingga tak sedetik pun aku bisa melewatkanmu?
Sejak pertama kita bertemu dan menjadi teman baru
diSemester 3
Aku pun tak tahu bagaimana ini
bisa terjadi, tentu saja aku tidak mengharapkannya. Waktuku nyaris hanya ada
untukmu. Kau menyiksaku di satu sisi namun di sisi lain inilah yang membuatku
nyaman. Mengingatmu, memainkanmu di anganku, mencandaimu dalam khayal adalah
rutinitas yang tak mungkin bisa ku lewatkan. Hebat sekali kau! Ah, segitu
pentingkah dirimu?
Aku bukannya tak tersiksa dengan
keadaan seperti ini. Tapi apalah daya bukan mauku juga untuk begini. Taukah kau
ini begitu menyakitkan.
Diam adalah pilihan. Ini
caraku mencintaimu. Bukannya aku tak ingin kau tau begitu besarnya rasa yang
kumiliki. Namun, setelah kutimbang-timbang lagi sepertinya memang lebih baik
kalau aku diam saja. Aku nyaris pernah mengatakannya padamu tapi setelah
melihat sikapmu yang tak pernah menganggapku benar-benar ada, aku mundur.
Tak siap menerima penolakanmu :”( . Mungkin pun kau tak tahu nama panjangku. Apalagi
tanggal lahirku, tempat tinggalku, makanan favoritku atau apalah tentang aku.
Padahal aku tahu semua tentang mu. Tempat dan tanggal lahirmu, warna favoritmu,
makanan kesukaanmu dan masih banyak lagi sisi dari dirimu yang kutahu semuanya
dengan baik.
Aku memang pengecut. Nyaliku
tak siap berhadapan denganmu. Seketika aku rapuh kala harus mengakui besarnya
rasa ini. Biarlah, mungkin memang harus begini yang kujalani. Izinkanlah
kupinjam mayamu agar tetap kekal di memoriku. Kurasa itu sudah cukup. Sederhana
saja memang, cukuplah aku mencintaimu walaupun kau tak pernah tau. Jangan marah
kalau pun suatu saat nanti kau tau diam-diam aku mencintaimu.
Aku pun tak tahu kapan
tepatnya aku mulai mencintaimu. Yang ku tahu saat aku mencintaimu hati ini
seketika hanya penuh denganmu. Mencintaimu tanpa ragu, tanpa syarat. Setelah
kuputuskan saat itu untuk mencintaimu tak ada yang kurang lagi kurasa di hidup
ini, kecuali satu, kau membalas cintaku. Tapi
bagaimana mungkin kau tahu kalau aku saja pun tak pernah mengatakannya.
Ya inilah caraku mencintaimu.
Diam, menikmati rasa ini sendirian walaupun kupikir ini tak adil. Kau juga
harus tahu bagaimana rasa ini kunikmati dari hari ke hari. Bagaimana rasa ini
kupupuk diam-diam. Kuingin kau tahu, cinta. Ingin kubagi semua ini denganmu.
Tapi aku takut kau tak berkenan dengan semua ini. Rasa ini mungkin terlalu hina
bagimu. Namun bagiku mencintaimu adalah anugerah tak terperi yang kumiliki. Ah,
sebegitu indahkah dirimu? Entahlah aku pun tak tahu jawaban pastinya.
Ah, cinta. Bagaimana lagi
harus kukatakan rasa ini?
Aku hanya akan menyimpan saja
rasa ini. Sebisa mungkin menjaganya agar tetap tumbuh kokoh dengan caranya
sendiri. Aku mohon izinkanlah! Hanya rasa ini yang kupunya sebab memilikimu aku
merasa tak mampu. Aku tak berani bermimpi lebih. Jadi kuputuskan hanya akan
mencintaimu dalam diam. Aku hanya mencintaimu dalam posisiku sebagai manusia
biasa.
Teman-temanku pun sudah bosan
dengan curhatanku yang selalu saja hanya mengisahkan tentang
keindahanmu. Sudah gila? Mungkin saja. Berdosa? Benarkah? Salahkah jika aku
mencintaimu? Toh aku tak pernah mengganggumu selama ini. Aku diam saja. Aku
merasa nyaman dengan keadaan ini.
Cinta, biarlah aku begini. Kau
tak perlu tahu tentang apa pun yang ada di hatiku. Aku tak mau kau terusik
apalagi sampai terganggu dengan segala rasa yang kupunya. Aku tak butuh apa-apa
selain keikhlasanmu untuk kucintai.
Bukan hanya kau saja laki-laki
yang kukenal, tapi tak pernah bisa hatiku untuk menerima mereka sebagai bagian
dari hidupku. Aku tak butuh apa-apa selain dirimu.
Aku tak suka penolakan. Aku
tak suka jika apa yang kuinginkan tak bisa kuraih. Itulah sebabnya mengapa aku
memilih diam untuk cintaku. Inilah caraku untuk meredakan perasaan yang terasa
tak mampu lagi kutahan.
Tapi apalah dayaku, aku
terlalu takut. Aku sendiri saja tak percaya pada diriku lalu bagaimana pula aku
akan meyakinkanmu dengan perasaan ini. Sudahlah aku tak mau membuatmu terusik
apalagi sampai terganggu dengan hadirnya perasaan yang diam-diam kupelihara
ini.
Melihatmu dari kejauhan saja
sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Tak perlu harus kau palingkan
wajahmu untuk sekedar melihat ke arahku. Aku tak ingin jika kau melihatku lalu
kau merasa kasihan kepadaku.
Aku disini hanya menunggu.Sampai saat DiSemester 5 ini tak pasti menunggu apa,
menunggu mati perlahan mungkin. Aku menunggu jawaban akan perasaan yang tak
juga mampu aku ungkapkan. Bibirku kelu seketika. Entah bagaimana lagi harus
kuatasi hati ini. Aku sendiri pun sudah tak tau lagi harus bagaimana. Adakah
yang bisa membantuku?
Melepaskan diri ini dari
pelukan ingatan tentangmu. Tentangmu yang selalu merasuki pikiranku. Mengusik
hari-hariku. Mengganggu tenangnya tidurku. Aku
ingin bebas dari kejaran bayanganmu. Ingin sekali rasanya kuhilangnya rasa ini
sebab percuma kalau pun kusimpan sendiri. Takkan ada yang akan mengerti.
Mungkin akan lebih baik jika aku pergi darimu,
meninggalkanmu. Mencoba jauh adalah hal terbaik bagiku mungkin. Agar aku dan
kau bisa sama-sama tenang. Pelan-pelan akan aku lepaskan ingatan tentangmu dan
memulai jalan hidup yang baru. Semoga kau bahagia kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar