Kamis, 23 Oktober 2014

SEMESTER 5 TULISAN KE-3



DIAM?? HANYA ITU YANG BISA KU LAKUKAN UNTUK DIRINYA...

Cinta, begitu indahkah kau hingga tak sedetik pun aku bisa melewatkanmu?
Sejak pertama kita bertemu dan menjadi teman baru diSemester 3
Aku pun tak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tentu saja aku tidak mengharapkannya. Waktuku nyaris hanya ada untukmu. Kau menyiksaku di satu sisi namun di sisi lain inilah yang membuatku nyaman. Mengingatmu, memainkanmu di anganku, mencandaimu dalam khayal adalah rutinitas yang tak mungkin bisa ku lewatkan. Hebat sekali kau! Ah, segitu pentingkah dirimu?

Aku bukannya tak tersiksa dengan keadaan seperti ini. Tapi apalah daya bukan mauku juga untuk begini. Taukah kau ini begitu menyakitkan.
Diam adalah pilihan. Ini caraku mencintaimu. Bukannya aku tak ingin kau tau begitu besarnya rasa yang kumiliki. Namun, setelah kutimbang-timbang lagi sepertinya memang lebih baik kalau aku diam saja. Aku nyaris pernah mengatakannya padamu tapi setelah melihat sikapmu yang tak pernah menganggapku benar-benar ada, aku mundur. 

Tak siap menerima penolakanmu :”( . Mungkin pun kau tak tahu nama panjangku. Apalagi tanggal lahirku, tempat tinggalku, makanan favoritku atau apalah tentang aku. Padahal aku tahu semua tentang mu. Tempat dan tanggal lahirmu, warna favoritmu, makanan kesukaanmu dan masih banyak lagi sisi dari dirimu yang kutahu semuanya dengan baik.

Aku memang pengecut. Nyaliku tak siap berhadapan denganmu. Seketika aku rapuh kala harus mengakui besarnya rasa ini. Biarlah, mungkin memang harus begini yang kujalani. Izinkanlah kupinjam mayamu agar tetap kekal di memoriku. Kurasa itu sudah cukup. Sederhana saja memang, cukuplah aku mencintaimu walaupun kau tak pernah tau. Jangan marah kalau pun suatu saat nanti kau tau diam-diam aku mencintaimu.

Aku pun tak tahu kapan tepatnya aku mulai mencintaimu. Yang ku tahu saat aku mencintaimu hati ini seketika hanya penuh denganmu. Mencintaimu tanpa ragu, tanpa syarat. Setelah kuputuskan saat itu untuk mencintaimu tak ada yang kurang lagi kurasa di hidup ini, kecuali satu, kau membalas cintaku. Tapi bagaimana mungkin kau tahu kalau aku saja pun tak pernah mengatakannya.

Ya inilah caraku mencintaimu. Diam, menikmati rasa ini sendirian walaupun kupikir ini tak adil. Kau juga harus tahu bagaimana rasa ini kunikmati dari hari ke hari. Bagaimana rasa ini kupupuk diam-diam. Kuingin kau tahu, cinta. Ingin kubagi semua ini denganmu. Tapi aku takut kau tak berkenan dengan semua ini. Rasa ini mungkin terlalu hina bagimu. Namun bagiku mencintaimu adalah anugerah tak terperi yang kumiliki. Ah, sebegitu indahkah dirimu? Entahlah aku pun tak tahu jawaban pastinya.
Ah, cinta. Bagaimana lagi harus kukatakan rasa ini?

Aku hanya akan menyimpan saja rasa ini. Sebisa mungkin menjaganya agar tetap tumbuh kokoh dengan caranya sendiri. Aku mohon izinkanlah! Hanya rasa ini yang kupunya sebab memilikimu aku merasa tak mampu. Aku tak berani bermimpi lebih. Jadi kuputuskan hanya akan mencintaimu dalam diam. Aku hanya mencintaimu dalam posisiku sebagai manusia biasa.

Teman-temanku pun sudah bosan dengan curhatanku yang selalu saja hanya mengisahkan tentang keindahanmu. Sudah gila? Mungkin saja. Berdosa? Benarkah? Salahkah jika aku mencintaimu? Toh aku tak pernah mengganggumu selama ini. Aku diam saja. Aku merasa nyaman dengan keadaan ini.

Cinta, biarlah aku begini. Kau tak perlu tahu tentang apa pun yang ada di hatiku. Aku tak mau kau terusik apalagi sampai terganggu dengan segala rasa yang kupunya. Aku tak butuh apa-apa selain keikhlasanmu untuk kucintai.

Bukan hanya kau saja laki-laki yang kukenal, tapi tak pernah bisa hatiku untuk menerima mereka sebagai bagian dari hidupku. Aku tak butuh apa-apa selain dirimu.
Aku tak suka penolakan. Aku tak suka jika apa yang kuinginkan tak bisa kuraih. Itulah sebabnya mengapa aku memilih diam untuk cintaku. Inilah caraku untuk meredakan perasaan yang terasa tak mampu lagi kutahan.

Tapi apalah dayaku, aku terlalu takut. Aku sendiri saja tak percaya pada diriku lalu bagaimana pula aku akan meyakinkanmu dengan perasaan ini. Sudahlah aku tak mau membuatmu terusik apalagi sampai terganggu dengan hadirnya perasaan yang diam-diam kupelihara ini.

Melihatmu dari kejauhan saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Tak perlu harus kau palingkan wajahmu untuk sekedar melihat ke arahku. Aku tak ingin jika kau melihatku lalu kau merasa kasihan kepadaku.

Aku disini hanya menunggu.Sampai saat DiSemester 5 ini tak pasti menunggu apa, menunggu mati perlahan mungkin. Aku menunggu jawaban akan perasaan yang tak juga mampu aku ungkapkan. Bibirku kelu seketika. Entah bagaimana lagi harus kuatasi hati ini. Aku sendiri pun sudah tak tau lagi harus bagaimana. Adakah yang bisa membantuku?

Melepaskan diri ini dari pelukan ingatan tentangmu. Tentangmu yang selalu merasuki pikiranku. Mengusik hari-hariku. Mengganggu tenangnya tidurku. Aku ingin bebas dari kejaran bayanganmu. Ingin sekali rasanya kuhilangnya rasa ini sebab percuma kalau pun kusimpan sendiri. Takkan ada yang akan mengerti.

Mungkin akan lebih baik jika aku pergi darimu, meninggalkanmu. Mencoba jauh adalah hal terbaik bagiku mungkin. Agar aku dan kau bisa sama-sama tenang. Pelan-pelan akan aku lepaskan ingatan tentangmu dan memulai jalan hidup yang baru. Semoga kau bahagia kelak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar