Deputi Bidang Produksi Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo menjelaskan program rintisan itu mulai diaksanakan pada tahun lalu. Hasil panennya cukup signifikan sehingga pada tahun ini program tersebut dilanjutkan kembali.
Jumlah koperasi yang ditunjuk untuk menjalankan program rintisan pada tahun ini tetap 20 unit. Dengan demikian selama 2 tahun program itu berlangsung, sudah terdaftar sebanyak 40 koperasi yang menjalankannya.
”Setiap koperasi yang ditetapkan menjadi pelaksana program, diberi pembiayaan dari bantuan sosial Rp5,5 juta untuk setiap 1 hektar lahan. Sifatnya hanya untuk menjadi proyek percontohan atau demplot,” katanya kepada Bisnis,
Kemenkop Tunjuk 20 Koperasi Untuk Budidaya Kedelai
Meski
demikian, kesuksesan program yang diusung tersebut diharapkan bisa
diimplementasikan ke daerah lain di luar pulau Jawa. Sebab, kapasitas
produksinya juga meningkat signifikan dibandingkan dengan sistem yang
dipakai petani kedelai selama ini.
Keunggulan itu terletak pada pengelolaan atau penggarapan lahan. Selain itu bibitnya juga merupakan pilihan dengan kualitas prima. Mengedepankan konsentrasi budidaya dengan pola yang dipakai Kementerian Koperasi dan UKM, hasil panennya pun sangat memuaskan.
Budidaya kedelai yang dilaksanakan instansi tersebut masing-masing di Gunung Kidul (Yogyakarta), Pasuruan (Jawa Timur), dan di Grobogan (Jawa Tengah). Program rintisan ini diharapkan menjadi stimulan bagi produksi kedelai dalam negeri.
”Tujuannya adalah, untuk menstimulasi koperasi meningkatkan produksi kedelai sekaligus meningkatkan kemampuan SDM gerakan koperasi pada bisnis budidaya kedelai. Dampak yang diharapkan, mampu mendukung ketersediaan kedelai dalam negeri,” papar Braman Setyo.
Berdasarkan hasil yang dilaksanakan Koperasi Unit Desa (KUD) Sukomaju Ponorogo, Jawa Timur seluas 10 hektar, hasil panen rata-rata per hektar mencapai 1,97 ton. Dengan asumsi harga jual sebesar Rp6.500 per kilogram, pendapatannya mencapai Rp12,8 juta per hektar.
Dengan asumsi biaya produksi per hektar hingga panen sebesar Rp7,6 juta, maka keuntungan dari budidaya tersebut bisa menghasilkan sekitar Rp5,1 juta per hektar.
Keunggulan itu terletak pada pengelolaan atau penggarapan lahan. Selain itu bibitnya juga merupakan pilihan dengan kualitas prima. Mengedepankan konsentrasi budidaya dengan pola yang dipakai Kementerian Koperasi dan UKM, hasil panennya pun sangat memuaskan.
Budidaya kedelai yang dilaksanakan instansi tersebut masing-masing di Gunung Kidul (Yogyakarta), Pasuruan (Jawa Timur), dan di Grobogan (Jawa Tengah). Program rintisan ini diharapkan menjadi stimulan bagi produksi kedelai dalam negeri.
”Tujuannya adalah, untuk menstimulasi koperasi meningkatkan produksi kedelai sekaligus meningkatkan kemampuan SDM gerakan koperasi pada bisnis budidaya kedelai. Dampak yang diharapkan, mampu mendukung ketersediaan kedelai dalam negeri,” papar Braman Setyo.
Berdasarkan hasil yang dilaksanakan Koperasi Unit Desa (KUD) Sukomaju Ponorogo, Jawa Timur seluas 10 hektar, hasil panen rata-rata per hektar mencapai 1,97 ton. Dengan asumsi harga jual sebesar Rp6.500 per kilogram, pendapatannya mencapai Rp12,8 juta per hektar.
Dengan asumsi biaya produksi per hektar hingga panen sebesar Rp7,6 juta, maka keuntungan dari budidaya tersebut bisa menghasilkan sekitar Rp5,1 juta per hektar.
KOMENTAR :
Saya
setuju dengan keputusan Kemenkop menunjuk 20 koperasi sebagai budidaya kedelai
karena Indonesia bisa mengurangi penggunaan Import kedelai dari Negara lain.
Usaha yang dilakukan Kemenkop sangat bagus karena akan berdampak positif untuk
masyarakat agar menggunakan produk dalam negeri.
Sumber
:
Demikianlah
penulisan SoftSkill yang saya buat dan tidak lupa saya berterimakasih kepada
situs-situs yang telah membantu saya dan memberikan banyak inspiransi . ^O^